Dunia Misteri

Kisah Tanah Jujur Tempat Makam Syekh Hamzah Fansuri di Kota Subulussalam Aceh

Syekh Hamzah Fansuri dikenal sebagai ahli tasauf, ahli sastra, ahli fikih, dan penyair yang mendunia. Menurut A. Theew beliaulah peyair pertama Indonesia dan beliau juga lah yang menggunakan bahasa melayu dalam syairnya. Beliau hidup sekitar abad 16 dan 17.

Tempat kelahiran beliau juga masih banyak misteri, beberapa catatan sejarah, ada yang mengatakan Syakh Hamzah Fansuri lahir di Barus, dekat Sibolga Sumatera Utara sekarang, namun Prof. Ali Hasymi seorang sastrawan dan juga Gubernur Aceh yang menjabat di Tahun 1957 – 1964 menyebutkan bahwa Syekh hamzah Fansuri lahir di Fansur itu satu kampung yang terletak antara Kota Singkil dengan Gosong Telaga yang sekarang menjadi kabupaten di Ujung selatan Aceh.

Telepas dari misteri tempat kelahirannya, ternyata banyak karya yang dihasilkan oleh Syekh Hamzah Fansuri ini, banyak syairnya yang menggunakan bahasa melayu yang di terjemahkan kedalam bahasa Inggris, termasuk Prof Ali Hasymi juga meneliti syair sajak beliau. Dalam buku "Hamzah Fansuri Penyair Aceh", Prof. A. Hasymi menyebut Hamzah Fansuri hidup sampai akhir pemerintahan Sultan Iskandar Muda.

Karya-karya Hamzah Fansyuri antara lain “Syair Perahu, Syair Burung Pingai” dan lain-lain. “Syair Perahu” berisi petuah tetang kehidupan agar tetap memelihara amal kebaikan, dengan menggunakan gaya bahasa syair Ruba'i nya dimana setiap bait syairnya terdiri empat baris dengan akhiran yang sama. Dan banyak juga Buku-bukunya sering disebut dalam manuskrip kuno “Sejarah Melayu” seperti “Durrul Manzum” (Benang Mutiara) dan “Al-Saiful Qati” (Pedang Tajam).
Syairnya sangat kental dengan tasauf, kerohaniahan seperti yang dikutip dari syair berikut;

Thayr al-`uryan unggas  sulthani
Bangsanya nur al-rahmani
Tasbihnya Allah `Subhani’
Gila dan mabuk akan rabbani

Unggas  itu terlalu  pingai
Warnanya sempurna  bisai
Rumahnya tiada berbidai
Duduknya da’im di balik tirai

Awwalnya bernama ruhi
Millatnya terlalu  sufi
Tubuhnya terlalu  suci
Mushafnya besar suratnya  kufi

atau syair lainnya;


Hamzah nin asalnya Fansury
Mendapat wujud di tanah Shahrnawi
Beroleh khilafat ilmu yang ‘ali
Dari abad ‘Abd al-Qadir Jilani

Hamzah di negeri Melayu
Tempatnya kapur di dalam kayu
Asalnya manikam tiadakan layu
Dengan ilmu dunia di manakan payu

Hamzah Fansury di dalam Mekkah
Mencapai Tuhan di Baitul Ka’bah
Dari Barus terlayu payah
Akhirnya dijumpa di dalam rumah

Hamzah miskin orang uryani
Seperti Ismail menjadi Qurbani
Bukan Ajami lagi Arabi
Senantiasa wasil dengan yang baqi

Beliau hidup dan berpengaruh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), merupakan tokoh utama yang mengangkat bahasa Melayu dari bahasa lingua-fransca, menjadi bahasa ilmu dan sastra. Peneliti dari Malaysia, Prof Dr. Naguib Alatas dalam bukunya  “The Mysticcism of Hamzah Fansuri” menyebut Hamzah Fansyuri sebagai  Pujangga Melayu terbesar dalam abad XVII, penyair Sufi yang tidak ada taranya pada zaman itu.

Kisah Dibalik Syekh Hamzah Fansuri Memilih Lokasi Makamnya


Kini makam penyair itu ada di Desa Oboh Kecamatan Rundeng Sekitar 15 KM dari Kota Subulussalam, tepat disisi sekitar 20 Meter dari Sungai Simpang Kiri (Lae Soraya). Walaupun banyak yang mengklaim kuburannya ada di Unjung Pancu Aceh Besar dan ada juga yang mengklaim ada di Malaysia. Namun bukti baik berupa penelitian dan kajian hasil karyanya menunjukkan lebih cendrung ke lokasi makam di Desa Oboh Kecamatan Rundeng Kota Subulussalam yang dulunya masih Aceh Singkil.



Makam Syekh Hamzah Fansuri di Kota Subulussalam Aceh

Makam Syekh Hamzah Fansuri di Kota Subulussalam AcehMakam Syekh Hamzah Fansuri di Kota Subulussalam Aceh
Penjaga Makam Syekh Hamzah Fansuri Abdullah (66) menyebutkan, nenek moyangnya yang dulu juga juru kunci di makam tersebut tidak banyak mengetahui perihal riwayat Syakh Hamzah Fansuri. Selain dikenal sebagai ahli fikih dan suluk dari Barus dan pernah bekerja di Istana Kerajaan Aceh, Abdullah dan warga sekitar makam hanya mengetahui satu kisah legenda tentang Syekh hamzah Fansuri, yaitu tanah tempat kuburannya.

”Mengapa memilih dikubur di sini, karena saat beliau menanam padi sekaleng, panennya pun sekaleng. Saat di Kutaraja (sekarang Banda Aceh), menanam padi sekaleng, panennya ratusan kaleng. Beliau berkesimpulan, di sinilah tanah kejujuran,” kata dia.

Itulah alasan Syakh Hamzah Fansuri memilih makamnya di desa Oboh, karena tanah tersebut tanah jujur, dimana hasil pertanian yang dipanen sama seperti jumlah yang ditanam. Dan konon menurut penduduk oboh lokasi makam beliau tidak pernah banjir walau hanya beberapa meter dari sungai besar.

Sampai saat ini, lokasi makam Syekh Hamzah Fansuri ini banyak dikunjungi oleh wisatawan baik lokal ataupun beberapa orang yang dari manca negara yang tertarik mengenai hasil kayra beliau yang mendunia. Semoga memberi pencerahan tentang sejarah khususnya Sejarah Islam, Sastra dan Bahasa.

Referensi;

http://nasional.kompas.com/read/2013/11/02/0712065/Hamzah.Fansuri.Jasadnya.Satu.Makamnya.di.Mana-mana
http://aceh.tribunnews.com/2013/03/03/misteri-syekh-hamzah-fansuri?page=2
http://jalantelawi.com/2012/09/jejak-sang-sufi-hamzah-fansuri-dan-syair-syair-tasawufnya/
https://naskahkuno.wordpress.com/category/experts-articles/
https://alperakani.wordpress.com/2011/01/16/sejarah-hidup-hamzah-fansuri/

Sejarah Foto Proklamasi: Ternyata Ada Kebohongan Jurnalis Demi Kemerdekaan Indonesia

Ternyata Ada Kebohongan Jurnalis Untuk Sebuah Kemerdekaan Indonesia. Ya begitulah yang harus dilakukan oleh dua wartawan foto kakak beradik Frans Sumarto Mendur dan Alexius Impurung Mendur ketika Tentara Jepang mencari keberadaan mereka, karena hanya kedua jurnalis ini yang berhasil mengabadikan momen paling bersejarah bangsa Indonesia yaitu Momen Sejarah Detik-detik Proklamasi Republik Indonesia pada Tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 17 Ramadhan 1364 H.

Sebuah berita besar tanpa dukungan bukti foto tentu akan terasa hambar dan bisa juga rakyat akan mengganggap ini hanya hoax kalau istilah sekarang ini. Namun dengan jasa dua Jurnalis ini berhasil mengabadikan 3 foto penting detik-detik proklamasi. Tapi 3 foto itu tidaklah pada hari itu juga dicuci negatif nya karena kedua jurnalis tersebut dikejar-kejar oleh tentara Jepang. Karena Hodokan, yakni Dinas Pers Jepang selalu mensensor berita yang akan diterbitkan. Namun 3 foto tersebut terpaksa diamankan dan ketika kondisi keamanan mulai kondusif barulah pada Tanggal 20 Februari 1946 dipublikasikan ke publik.

Cerita lengkapnya begini;

Subuh itu bertepatan tanggal 17 Agustus 1945 dan 17 Ramadhan 1346, Frans dan kakaknya mendapat informasi melalui sumber dari Harian Asia Raya,  bahwa pada pagi bulan Ramadhan, Jum’at 17 Agustus 1945, akan ada peristiwa penting di kediaman Soekarno. Bersama abangnya, kedua bersaudara ini segera menuju lokasi, karena kediaman Presiden Soekarno terletak di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Cikini, Jakarta.

Dengan mengendap-endap, Mendur bersaudara berhasil merapat ke rumah di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Cikini, Jakarta, tatkala jam masih menunjukkan pukul 05.00 pagi. Dari jam 5 pagi ditunggu-tunggu baru akhirnya detik-detik proklamasi pukul 10.00 WIB Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Upacara proklamasi kemerdekaan berlangsung sangat sederhana, tanpa protokoler yang ketat.

Adapun foto yang berhasil diambil oleh Frans ada tiga foto, foto tersebut adalah;
Foto pertama, ketika Soekarno membaca teks proklamasi. Yang sudah sering kita lihat dan familiar di mata kita.
Sejarah Foto Proklamasi
 

Foto kedua, pengibaran bendera Merah Putih oleh Latief Hendraningrat, anggota PETA. 

Sejarah Foto Proklamasi


Foto ketiga, suasana upacara dan para pemuda yang menyaksikan pengibaran bendera.



Sejarah Foto Proklamasi
Usai upacara, Mendur bersaudara bergegas meninggalkan kediaman Soekarno di Pegangsaan Timur. Tentara Jepang memburu keberadaan mereka. Alex Mendur tertangkap, tentara Jepang kemudian menyita foto-foto yang baru saja dibuat. Sementara adiknya, Frans Mendur, berhasil meloloskan diri. Negatif foto dikubur di tanah dekat sebuah pohon di halaman belakang kantor harian Asia Raya.

Ketika tentara Jepang mendatanginya, Frans berbohong, ia mengatakan bahwa negatif foto sudah diambil Barisan Pelopor. Setelah negatif foto berhasil dicetak, tidak serta merta bisa dipublish ke media massa pada saat itu.

Akibatnya berita tentang Proklamasi kemerdekaan Indonesia hanya diberitakan singkat di harian Asia Raya, 18 Agustus 1945. Tanpa foto karena telah disensor Jepang.

Setelah BM Diah bersama beberapa wartawan eks harian Asia Raya berhasil merebut percetakan De Unie dan mendirikan Harian Merdeka.

Untuk pertama kalinya, pada 20 Februari 1946, foto bersejarah ini dipublikasikan. Keberadaan foto-foto ini menjadi penting, karena merupakan bukti sejarah dari peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Itulah perjuangan para pahlawan 2 dua wartawan foto dalam memperjuangkan kebenaran dan kemerdekaan Republik Indonesia. Bahkan dengan berbohong sekalipun demi tanah air. Dengan Foto tersebut kita sebagai anak bangsa tahu bagaimana sebenarnya peritiwa detik-detik proklamasi tersebut.

Mungkin banyak yang tidak tahu sejarah foto proklamasi tersebut, dengan judul tersebut tentu Anda akan semakin ingat peristiwa tersebut. Silakan share untuk pengetahuan sejarah.

Baca Juga 3000 Pemberontak Kongo Menyerah Dari 30 Prajurit Kopassus Hanya Dengan Teknik Mistis

Referensi; http://makassar.tribunnews.com/2015/08/16/inilah-kisah-di-balik-foto-proklamasi-kemerdekaan-indonesia
Wikipedia
Kompas
Foto: Wikipedia